Rabu, 09 Mei 2012

Di Mana Sawah nukahiji di Tatar Sunda?





Mata pencarian utama masyarakat Sunda kuno adalah berladang. Hal itu dikemukakann Wertheim dalam bukunya, “Indonesian Society in Transition” yang membagi masyarakat Indonesia dalam tiga pola mata pencarian utama, yakni masyarakat pantai, masyarakat sawah, dan masyarakat ladang.
Naskah Carita Parahyangan dan Wawacan Sulanjana yang menceritakan sejarah tanah Sunda juga menunjukkan masyarakat Sunda sebagai peladang atau “ngahuma” dan cenderung hidup nomaden. Ciri khas masyarakat “ngahuma” adalah tidak memiliki tingkatan bahasa dan budaya tulis, serta cenderung ke arah kebudayaan lisan. Ciri khas itu hingga kini masih ditemui di masyarakat Baduy, Banten.
Pertanian sawah baru dikenal di Tatar Sunda sekitar abad ke-17 bersamaan dengan masuknya pengaruh Mataram. Di Karawang, misalnya, sistem sawah dengan irigasi mulai dikembangkan sejak wilayah itu direbut Mataram dari Sumedanglarang tahun 1632.
Sementara di wilayah Priangan, sawah mulai dikenal abad ke-18, yaitu diperkenalkan orang-orang Mataram yang didatangkan VOC. Mereka membuka daerah baru yang menghasilkan pangan. Melalui pertanian sawah, VOC mengarahkan masyarakat Sunda agar hidup menetap dalam pola perkampungan.
Berdasarkan dokumen VOC, sawah pertama di Priangan dibuka di Conggeang, Kabupaten Sumedang. Sawah itu dikerjakan orang-orang dari Banyumas. Mereka membawa peralatan lengkap dari kampung, termasuk kerbau. Adapun di Indramayu, yang menjadi lumbung padi, sawah pertama baru dibuka awal abad ke-19.
Perluasan sawah di Priangan mulai dilakukan tahun 1750 di kawasan Sumedang dan Tasikmalaya. Setengah abad kemudian, sawah mulai dibuka di Bandung dan Bogor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar